Nasihat kata 'MAAF'

by 18.05.00 0 komentar

Nasihat kata ‘MAAF’

Sebuah keniscayaan bahwa kita ialah manusia biasa, tempatnya salah, khilaf, dan lupa. Dalam hubungan kita, sebagai apapun, baik sebagai saudara, teman, sahabat, anak kepada orang tua, atau sebagai atasan/bawahan dlm global kerja akan selalu menghajatkan kesalahan atau kekurangan. Selain itu, kita juga tak dapat lepas dari ketergantungan terhadap manusia atau makhluk lainnya, sebab itu kita disebut makhluk sosial. Kita akan terhubung dan tersambung dengan makhluk lainnya. Dan dlm Islam atau kita sebagai muslim, interaksi tersebut kita sebut ukhuwah atau persaudaraan. Dalam persaudaraan antar sesama muslim akan ada rasa khilaf, benci, dan cinta pada saudaranya. Maka pertanyaannya ialah bagaimana sikap kita pada saudara, teman, atau sahabat anda? Sudahkah kita menjadi saudara, teman, atau sahabat terbaik buat mereka? Mari kita lihat…..
Kadang saudara kita melakukan salah, luput, kezaliman kepada kita, dan sudahkah kita memberlakukan kaidah, “Bencilah kesalahannya tapi jangan benci orangnya”? Subhanallah, kadang kita dengan kesalahan nan orang lakukan kepada kita, bukan hanya kesalahannya nan kita benci namun sang pelaku juga kita benci, padahal dengan kebencian kita kepada sang pelaku justru tak akan membantu kepada sang pelaku buat bertaubat dan berubah menjadi lebih baik, sebab sang pelaku akan merasa sendiri, sebagai makhluk penuh kesalahan nan tak termaafkan sebab kebencian kita.
Alhamdulillah, jika kaidah di atas sudah dapat kita lakukan kepada saudara kita, selanjutnya tentu kaidah “Memaafkan”. Memaafkan tentu tak mudah, apalagi jika kita benar-benar merasa tersakiti dan terzalimi olehnya, sebab itu Allah menempatkan sikap bersabar dan memaafkan sebagai sikap nan diutamakan daripada mengambil pembalasan serupa atas kejahatan orang kepada kita, meskipun pembalasan diperbolehkan (QS 42 : 39-43). Tentu, kita berharap dan berdoa agar ketika ada takdir kesalahan dari saudara, teman, dan sahabat kita maka ada takdir memaafkan nan mengiringi takdir kesalahan mereka, Insya Allah…..
Mari kita simak ungkapan latif dari Imam Asy-Syafi’i, “Aku mencintai orang-orang shalih meski saya bukanlah bagian dari mereka, dan saya membenci para pemaksiatNya meski saya tak berbeda dengan mereka”. Tentu kita tak meragukan betapa shalih dan utamanya kepribadian Sang Imam, dan, beliau ternyata mencintai orang-orang shalih meski “merasa” bukan bagian dari orang shalih, dan membenci pemaksiat meski “merasa” tak jauh berbeda dengan pemaksiat. Sebuah ungkapan nan menggambarkan rendah hatinya Sang Imam. Dan dlm persaudaraan kita, perlu memang adanya cinta dan benci nan seperti ini, cinta akan kebaikan dan keshalihannya, serta benci akan kesalahannya — dengan adanya salah dan khilaf saudara kita, maka diperlukan nasehat latif nan mengiringinya, sehingga kitapun harus ikhlas dan siap buat memberi ataupun menerima nasehat dari saudara, teman, dan sahabat kita. Karena dengan tradisi saling menasehati itulah nan akan menjadikan persaudaraan kita tak merugi. Dengan tradisi saling menasehati inilah nan akan meminimalisir kesalahan kita serta menyuburkan cinta di antara kita. Yang dengan tradisi saling menasehati tersebut, akan melahirkan rasa sesal atas kesalahan kita dan keinginan berubah menjadi lebih baik, Insya Allah….
  “Karena orang beriman tetaplah rembulan, memiliki sisi kelam, nan tak ingin ditampakkannya pada siapapun, maka cukuplah bagi kita memandang sang bulan pada sisi cantik nan menghadap bumi. Tentu, tanpa kehilangan semangat buat selalu berbagi dan sesekali merasai gelapnya sesal dan hangatnya nasehat sebagaimana sang rembulan nan kadang harus menggerhanai matahari”


Sittah Shify

Developer

Jadilah orang yang berguna bagi orang lain. Saling membahagiakan. Saling menasehati. Saling mengingatkan satu sama lain. Jadilah muslim sejati dan selalu melakukan yang terbaik!.

0 komentar:

Posting Komentar