Ransha
Zachcarlotte
Seorang gadis kecil miskin ini
bernama Ransha. Walaupun hidup dibawah jembatan
kota, hanya tinggal di sebuah rumah kardus nan kumuh tak lantas membuatnya
bersedih hati. Ia malah selalu semangat bekerja keras
setiap hari dengan mengumpulkan plastik bekas dan menjualnya. Dengan itu ia
dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia bangga dengan hal itu.
Daripada meminta pada orang lain, Ransha merasa dirinya jauh lebih mendingan.
Pagi yang cerah
itu, Ransha berniat untuk pergi ke pinggiran kota. Alasannya sederhana, ia
hanya ingin melihat sungai yang sejuk dan indah.
Lagian ia masih punya uang yang cukup hari ini. Untuk kesana, ia cukup berjalan kaki walau jaraknya hampir 4 kilometer. Sesampai disana, ia langsung mencari tempat
yang teduh dan beristirahat.
Angin
semilir membuat rambut pirang Ransha terangkat dan melambai-lambai. Yang sedari
tadi bersandar di sebatang pohon, segera beranjak berdiri. Ransha melangkahkan
kakinya dan mulai menyusuri sepanjang
sungai. Ia rindu sungai ini, terakhir kali ke sungai itu saat ayahnya masih
hidup beberapa tahun silam.
Setelah menyusuri sepanjang sungai cukup lama. Tiba-tiba langkahnya
terhenti saat melihat sesuatu yang terapung dan menyilaukan di tepi sungai.
Ransha memungutnya dan mendapati sebuah botol kaca yang berisikan gulungan
kertas di dalamnya. Penasaran, Ransha membuka botol dan membuka gulungan kertas
yang bertuliskan,
“APA ANDA INGIN KAYA? CARANYA MUDAH, CUKUP BERIKAN BARANG BERHARGA ANDA PADA ORANG YANG MEMBUTUHKANNYA. ANDA PASTI AKAN MENDAPAT KEKAYAAN”.
Maksudnya? Batin Ransha. Ia tak habis pikir dengan kata-kata itu. Bukankah
memberikan benda pada orang lain membuat miskin? Bagaimana bisa kaya karena itu? Pikirnya.
Sepanjang jalan ia pulang ke rumah kardusnya, ia terus memandangi botol dan
surat yang ia dapatkan. Ketika Ransha berhenti menunggu lampu hijau, ada
seorang bapak tua yang menghampirinya.
“Nak, minta uang nak. Kumohon nak, anakku sedang sakit. Berapapun nak”,
mohonnya.
“Emm.. bentar”, Ransha teringat kalau di sakunya tadi ada uang sepuluh
ribuan. Sambil merogoh sakunya, ia berpikir bahwa dirinya sendiri belum makan.
Mau beli makan pakai apa nanti? Terbesit dibenaknya kata-kata pada surat botol
yang ia genggam. Barang beharga? Bukankah uang adalah barang yang berharga
bagiku? Apakah harus kucoba? Setelah berpikir panjang, Ransha memberikan
uangnya ke bapak tersebut.
“Terimakasih nak, terimakasih banyak nak, semoga kebahagiaan selalu
menyertaimu,” ucap bapak tua sambil tersenyum.
“Iya.. sama-sama,” jawab Ransha dengan pelan.
Tak lama kemudian, gemericik air hujan turun perlahan yang lama kelamaan
menjadi deras. Sekejap, tubuh Ransha yang kurus kering itu basah kuyup.
Akhirnya ia memilih untuk berteduh di teras rumah orang. Hawa dingin sore itu membuat
Ransha memeluk kedua kakinya dengan erat. Tak henti-hentinya perutnya berbunyi
minta diisi. Ia merasa cukup menyesal memberikan uangnya
pada si kakek tadi. Tak lama kemudian, Ransha menitikkan air mata. ia merasa
kesal dengan orang yang menulis surat yang ditemukannya tadi. Kekayaan apanya?
Dasar orang bodoh, batinnya. Berselang beberapa menit, gadis manis ini sudah terlelap.
***
Perlahan mata Ransha terbuka. Ia baru saja tersadar kalau semalam tertidur
di teras rumah orang. Untungnya, pemilik rumah tak mengusirnya. Setelah
meregangkan tubuh beberapa kali, ia mulai menapaki jalan kembali ke rumanhnya.
Di sepertiga perjalanan, ia merasa sangat kelelahan. Sedari kemarin tak
makan, hari ini tak punya uang, dan perutnya terus menerus keroncongan. Benar-
benar membuatnya menderita. Akhirnya, ia beristirahat di sebuah bangku taman.
Peluh keringatnya bercucuran. Kepalanya pusing. Ia merasa di sekitarnya menjadi
gelap. Dan, Pats..
***
“Kamu baik-baik saja?” kata-kata lembut itu terdengar di telinganya
perlahan. Cahaya sedikit demi sedikit memasuki kelopak matanya. Terlihat sosok
yang putih, indah, dan tersenyum kepadanya.
“Apa kamu sudah sadar?” tanyanya lagi. Rambutnya panjang, bewarna putih, wajahnya
berseri-seri seperti bidadari. Apa ini di surga? Batin Ransha. “Sini, kubantu
kau duduk,” ucapnya sembari mendudukkan Ransha kemudian. Ransha terdiam,
tatapannya tak bergerak sedikitpun. Menatapi gadis sebaya di hadapannya.
“Oh, anu, aku Renza. Kau bisa memanggilku Zaza, ini roti buatmu, habis
kelihatannya kau kelaparan sekali,” ujarnya sambil menyodorkan roti yang segera
disambar oleh Ransha.
“Makasih,” ucap Ransha tak jelas sambil mengunyah.
“Kalau kau mau makan rotinya, sebut dong namamu,” ucap Zaza agak kesal
“Oh namaku Ransha”
“Ransha?”
“Ya”
“Tak ada nama panjang?”
“Ransha Zachcarlotte”
“Kalau gitu, oke Sasa! Ayo kita main! Tuh ada banyak anak-anak disana!
Ayo!” dengan girangnya menarik tangan Ransha menuju kerumunan anak-anak. Sejenak, rasa
penderitaan Ransha menghilang. Ia merasa lebih bahagia dari hari-hari yang
pernah ia habiskan.
“HOM PIM PAH!!” suara riuh kegaduhan anak-anak umur 10 tahunan itu
membahana.
***
“Kenapa kau tadi tak tahu cara mainnya Sasa? Apa kau tak pernah bermain
seperti itu sebelumnya?” tanya Zaza sambil menyedot susu kotaknya.
“Aku tak pernah bermain seperti itu. Lagian kenapa kau memanggilku Sasa?”
tanya balik Ransha.
“Karena akan lebih mudah ngucapinnya. Kenapa kau tidak meminum susu
kotakmu? Kau tidak suka?”
“Aku suka kok. Makasih banyak ya, Zaza,”
“Bukan apa apa kok,” jawabnya sambil senyum dan geleng-geleng.
“Apa kau masih punya orang tua?” tanya Ransha
“Ah, mengapa kau menanyakannya? Hanya karena aku punya uang kah?” ucap Zaza sambil menyedot habis minumannya,
“Ya, menurutku kau punya uang yang cukup dari orang tuamu”
“Sudahlah! Ayo kita ke lapangan Hoflen! Lapangan itu luas sekali lho, Ayo!”
teriak Zaza dengan semangat sambil mengepalkan tangannya lurus keatas.
“Ta..tapi, aku harus...”
“Ayolah Sasa! Mari kita bersenang senang saja hari ini!” Dengan terpaksa,
Ransha berjalan mengikuti Zaza.
Sesampai di lapangan Hoflen, mereka berdua langsung memetik bunga-bunga rumput
tanpa beristirahat. Di lapangan seluas 1 hektar itu, penuh ditumbuhi rumput
liar yang berbunga indah. Berwarna-warni, mungil, dan mendayun-dayun setiap
ditiup angin. Terlihat sangat indah. Walau di terik yang sangat cerah itu, sama sekali tak terasa panas baginya. Seolah membangkitkan rasa semangat.
Mendobrak jiwa yang selama ini terbenam dalam kekelaman. Membuat Ransha tak
puas-puas memetiki bunga dan memeluk rerumputan setinggi lututnya itu.
Memanglah ini pertamakalinya ia melihat dunia yang begitu menggerakkan jiwa. Seakan
terdengar kata ‘Berjuanglah!’ dari semua romansa alam di sekelilingnya.
Tetesan-tetesan keringat rasa
lelah mulai
berjatuhan di dahi Ransha. Dan saat ia menengok ke belakang, ia sudah tak
mendapati Zaza. “Zaza?”
“Hei Zaza kamu kemana? Kamu mau main petak umpet ya!?” teriak Ransha sambil
berkeliling mencari-cari Zaza. Ia bahkan bertanya kepada orang-orang yang
bermain bola di lapangan itu, tetapi hasilnya tetap nihil.
“Zazaaaaaa!!! Sekarang aku sudah tahu caranya main petak umpet lho!! Kamu
bisa kena aku lho yaaaaa??!!” teriak Ransha di sana-sini. Ia benar-benar
bingung. Bukankah Zaza yang mengajaknya kemari. Tetapi mengapa Zaza malah
menghilang?
Kesekian menit berlalu. Tapi Zaza tak juga muncul. Lutut Ransha terasa letih. Ia mencoba berbaring di antara rerumputan. Saat ia mencoba memiringkan
posisi tubuhnya, ia merasa ada yang mengganjal di sakunya. Dia baru tahu kalau
benda itu adalah botol yang berisikan gulungan kertas yang tak sengaja masih
disimpan di sakunya. Ia mencoba mengeluarkan gulungan kertas dari botol
tersebut dan membacanya lagi. Ransha terperanjat kaget. Tulisan dalam kertas
gulungan itu berubah. Kertas itu bertuliskan.
“Halo kak, mungkin kau sudah lupa denganku ya? Tentu saja kau sudah lupa
denganku. Saat itu kita masih berumur satu tahun, aku terkena penyakit oleh virus yang
membahayakan. Hal itu membuatku meninggalkan dunia ini. Untuk mencegah
penyebaran virusnya, tubuhku harus dibakar. Dan abunya dihanyutkan di sungai
tepi kota. Karena itulah aku membuat surat ini untukmu kakak. Kuharap sekali
kau menerima suratku walau hanya seperti ini cara yang kubisa.
Kak, kau tahu mengapa aku mengajakmu bermain? Karena aku hanya ingin
melihatmu tertawa kak. Dan kau tahu mengapa aku mengajakmu ke lapangan
Hoflen? Karena aku ingin kau lebih
bersemangat menghabiskan hari-harimu selanjutnya. Kak, aku tidak suka melihatmu
menjadi tak peduli, memandang rendah orang lain seperti itu. Karena itu,
percaya kata-kataku oke? Percaya kak kalau suatu saat nanti kau akan mendapat balasan
dari kebaikanmu.
Kak, hidup itu bukan karena harta. Hidup itu bukan melulu hanya uang. Aku
benci melihat kakakku yang kusayangi menjadi miskin dan cuma memikirkan uang.
Kak, hidup itu harus berdampingan dengan orang lain. Kita tak bisa hidup
sendirian. Carilah teman sebanyak-banyaknya di luar sana. Jangan putus asa
karena ayah, ibu, dan aku telah tiada. Berjuanglah kak. Berbuatlah baik pada
orang lain kak. Dengan begitu kakak akan berguna bagi orang lain dan kaya
teman.
Kak, walau nama kita sekilas berbeda tapi sebenarnya mirip bukan? Oh ya kak,
lucu ya. Aku memanggilmu kakak walau lahir kita hanya selisih 14 menit. Kak,
maaf ya aku hanya bisa memberimu ini. Mungkin kau tak dapat melihatku lagi.
Karena dunia hidup kita berbeda. Tapi, aku akan selalu di sini mendukungmu,
menyemangatimu, dan menyorakimu. Jangan pernah menyerah untuk bangkit kak.
Perjalananmu masih panjang kak. Jangan sia-siakan hidupmu. Lakukan yang terbaik
dan buat aku tenang di sini, oke? Maaf ya aku memanggilmu Sasa, karena aku tak
tahu bagaimana.
Sudah ya kak, salam bahagia dari Ayah, Ibu, dan Aku. Selamat berjuang!”
-Renza Shachcarlotte-
(saudara kembarmu)
Seketika, dada Ransha terasa sesak. Terasa diremas kuat. Bola matanya terasa panas. Dalam
hitungan detik air matanya meleleh. Berurai membasahi pipinya. Napasnya
tersengal-sengal. Tenggorokannya terasa tercekat. Dan suara isakannya keras
sekali. Ia merasa senang bercampur sedih. Tapi juga merasa bersalah. Segera ia
menggulung kembali dua lembaran kertas itu dan bangkit. Kini ia telah tahu, apa
artinya dan tujuannya berada di dunia ini.
***
Bertahun-tahun telah berlalu. Ransha telah menjadi seorang gadis remaja yang
cantik. Ia telah sukses menggapai keinginannya. Pada suatu hari, ada seorang
lelaki bertubuh tinggi datang kepadanya. Lelaki itu tak lain adalah anak bapak
tua yang dulu ia beri uang. Dia menawari pekerjaan yang bergengsi pada Ransha.
Ransha menerimanya dengan sangat senang.
Hingga suatu ketika. Ransha menikah dengan lelaki bernama Zarthein. Lelaki yang
dulunya sakit lalu berobat dan sembuh berkat Ransha. Kini, Ransha benar-benar
telah menemukan kekayaan yang sebenarnya.
***
END
Thanks For Your Visiting My Blog
Catch your Dream!


0 komentar:
Posting Komentar