Ransha Zachcarlotte

by 20.15.00 0 komentar



Ransha
Zachcarlotte 



Seorang gadis kecil miskin ini bernama Ransha. Walaupun hidup dibawah jembatan kota, hanya tinggal di sebuah rumah kardus nan kumuh tak  lantas membuatnya bersedih hati. Ia malah selalu semangat bekerja keras setiap hari dengan mengumpulkan plastik bekas dan menjualnya. Dengan itu ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia bangga dengan hal itu. Daripada meminta pada orang lain, Ransha merasa dirinya jauh lebih mendingan.
            Pagi yang cerah itu, Ransha berniat untuk pergi ke pinggiran kota. Alasannya sederhana, ia hanya ingin melihat sungai yang sejuk dan indah. Lagian ia masih punya uang yang cukup hari ini. Untuk kesana, ia cukup berjalan kaki walau jaraknya hampir 4 kilometer. Sesampai disana, ia langsung mencari tempat yang teduh dan beristirahat.
            Angin semilir membuat rambut pirang Ransha terangkat dan melambai-lambai. Yang sedari tadi bersandar di sebatang pohon, segera beranjak berdiri. Ransha melangkahkan kakinya  dan mulai menyusuri sepanjang sungai. Ia rindu sungai ini, terakhir kali ke sungai itu saat ayahnya masih hidup beberapa tahun silam.
Setelah menyusuri sepanjang sungai cukup lama. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat sesuatu yang terapung dan menyilaukan di tepi sungai. Ransha memungutnya dan mendapati sebuah botol kaca yang berisikan gulungan kertas di dalamnya. Penasaran, Ransha membuka botol dan membuka gulungan kertas yang bertuliskan,
“APA ANDA INGIN KAYA? CARANYA MUDAH, CUKUP BERIKAN BARANG BERHARGA ANDA PADA ORANG YANG MEMBUTUHKANNYA. ANDA PASTI AKAN MENDAPAT KEKAYAAN”.
Maksudnya? Batin Ransha. Ia tak habis pikir dengan kata-kata itu. Bukankah memberikan benda pada orang lain membuat miskin? Bagaimana bisa kaya karena itu? Pikirnya.
Sepanjang jalan ia pulang ke rumah kardusnya, ia terus memandangi botol dan surat yang ia dapatkan. Ketika Ransha berhenti menunggu lampu hijau, ada seorang bapak tua yang menghampirinya.
“Nak, minta uang nak. Kumohon nak, anakku sedang sakit. Berapapun nak”, mohonnya.
“Emm.. bentar”, Ransha teringat kalau di sakunya tadi ada uang sepuluh ribuan. Sambil merogoh sakunya, ia berpikir bahwa dirinya sendiri belum makan. Mau beli makan pakai apa nanti? Terbesit dibenaknya kata-kata pada surat botol yang ia genggam. Barang beharga? Bukankah uang adalah barang yang berharga bagiku? Apakah harus kucoba? Setelah berpikir panjang, Ransha memberikan uangnya ke bapak tersebut.
“Terimakasih nak, terimakasih banyak nak, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu,” ucap bapak tua sambil tersenyum.
“Iya.. sama-sama,” jawab Ransha dengan pelan.
Tak lama kemudian, gemericik air hujan turun perlahan yang lama kelamaan menjadi deras. Sekejap, tubuh Ransha yang kurus kering itu basah kuyup. Akhirnya ia memilih untuk berteduh di teras rumah orang. Hawa dingin sore itu membuat Ransha memeluk kedua kakinya dengan erat. Tak henti-hentinya perutnya berbunyi minta diisi. Ia merasa cukup menyesal memberikan uangnya pada si kakek tadi. Tak lama kemudian, Ransha menitikkan air mata. ia merasa kesal dengan orang yang menulis surat yang ditemukannya tadi. Kekayaan apanya? Dasar orang bodoh, batinnya. Berselang beberapa menit, gadis manis ini sudah terlelap.
***
Perlahan mata Ransha terbuka. Ia baru saja tersadar kalau semalam tertidur di teras rumah orang. Untungnya, pemilik rumah tak mengusirnya. Setelah meregangkan tubuh beberapa kali, ia mulai menapaki jalan kembali ke rumanhnya.
Di sepertiga perjalanan, ia merasa sangat kelelahan. Sedari kemarin tak makan, hari ini tak punya uang, dan perutnya terus menerus keroncongan. Benar- benar membuatnya menderita. Akhirnya, ia beristirahat di sebuah bangku taman. Peluh keringatnya bercucuran. Kepalanya pusing. Ia merasa di sekitarnya menjadi gelap. Dan, Pats..
***
“Kamu baik-baik saja?” kata-kata lembut itu terdengar di telinganya perlahan. Cahaya sedikit demi sedikit memasuki kelopak matanya. Terlihat sosok yang putih, indah, dan tersenyum kepadanya.
“Apa kamu sudah sadar?” tanyanya lagi. Rambutnya panjang, bewarna putih, wajahnya berseri-seri seperti bidadari. Apa ini di surga? Batin Ransha. “Sini, kubantu kau duduk,” ucapnya sembari mendudukkan Ransha kemudian. Ransha terdiam, tatapannya tak bergerak sedikitpun. Menatapi gadis sebaya di hadapannya.
“Oh, anu, aku Renza. Kau bisa memanggilku Zaza, ini roti buatmu, habis kelihatannya kau kelaparan sekali,” ujarnya sambil menyodorkan roti yang segera disambar oleh Ransha.
“Makasih,” ucap Ransha tak jelas sambil mengunyah.
“Kalau kau mau makan rotinya, sebut dong namamu,” ucap Zaza agak kesal
“Oh namaku Ransha”
“Ransha?”
“Ya”
“Tak ada nama panjang?”
“Ransha Zachcarlotte”
Kalau gitu, oke Sasa! Ayo kita main! Tuh ada banyak anak-anak disana! Ayo!” dengan girangnya menarik tangan Ransha menuju kerumunan anak-anak. Sejenak, rasa penderitaan Ransha menghilang. Ia merasa lebih bahagia dari hari-hari yang pernah ia habiskan.
“HOM PIM PAH!!” suara riuh kegaduhan anak-anak umur 10 tahunan itu membahana.
***
“Kenapa kau tadi tak tahu cara mainnya Sasa? Apa kau tak pernah bermain seperti itu sebelumnya?” tanya Zaza sambil menyedot susu kotaknya.
“Aku tak pernah bermain seperti itu. Lagian kenapa kau memanggilku Sasa?” tanya balik Ransha.
“Karena akan lebih mudah ngucapinnya. Kenapa kau tidak meminum susu kotakmu? Kau tidak suka?”
“Aku suka kok. Makasih banyak ya, Zaza,”
“Bukan apa apa kok,” jawabnya sambil senyum dan geleng-geleng.
“Apa kau masih punya orang tua?” tanya Ransha
“Ah, mengapa kau menanyakannya? Hanya karena aku punya uang kah?” ucap Zaza sambil menyedot habis minumannya,
“Ya, menurutku kau punya uang yang cukup dari orang tuamu”
“Sudahlah! Ayo kita ke lapangan Hoflen! Lapangan itu luas sekali lho, Ayo!” teriak Zaza dengan semangat sambil mengepalkan tangannya lurus keatas.
“Ta..tapi, aku harus...”
“Ayolah Sasa! Mari kita bersenang senang saja hari ini!” Dengan terpaksa, Ransha berjalan mengikuti Zaza.
Sesampai di lapangan Hoflen, mereka berdua langsung memetik bunga-bunga rumput tanpa beristirahat. Di lapangan seluas 1 hektar itu, penuh ditumbuhi rumput liar yang berbunga indah. Berwarna-warni, mungil, dan mendayun-dayun setiap ditiup angin. Terlihat sangat indah. Walau di terik yang sangat cerah itu, sama sekali tak terasa panas baginya. Seolah membangkitkan rasa semangat. Mendobrak jiwa yang selama ini terbenam dalam kekelaman. Membuat Ransha tak puas-puas memetiki bunga dan memeluk rerumputan setinggi lututnya itu. Memanglah ini pertamakalinya ia melihat dunia yang begitu menggerakkan jiwa. Seakan terdengar kata ‘Berjuanglah!’ dari semua romansa alam  di sekelilingnya.
Tetesan-tetesan keringat rasa lelah mulai berjatuhan di dahi Ransha. Dan saat ia menengok ke belakang, ia sudah tak mendapati Zaza. “Zaza?”
“Hei Zaza kamu kemana? Kamu mau main petak umpet ya!?” teriak Ransha sambil berkeliling mencari-cari Zaza. Ia bahkan bertanya kepada orang-orang yang bermain bola di lapangan itu, tetapi hasilnya tetap nihil.
“Zazaaaaaa!!! Sekarang aku sudah tahu caranya main petak umpet lho!! Kamu bisa kena aku lho yaaaaa??!!” teriak Ransha di sana-sini. Ia benar-benar bingung. Bukankah Zaza yang mengajaknya kemari. Tetapi mengapa Zaza malah menghilang?
Kesekian menit berlalu. Tapi Zaza tak juga muncul. Lutut Ransha terasa letih. Ia mencoba berbaring di antara rerumputan. Saat ia mencoba memiringkan posisi tubuhnya, ia merasa ada yang mengganjal di sakunya. Dia baru tahu kalau benda itu adalah botol yang berisikan gulungan kertas yang tak sengaja masih disimpan di sakunya. Ia mencoba mengeluarkan gulungan kertas dari botol tersebut dan membacanya lagi. Ransha terperanjat kaget. Tulisan dalam kertas gulungan itu berubah. Kertas itu bertuliskan.
“Halo kak, mungkin kau sudah lupa denganku ya? Tentu saja kau sudah lupa denganku. Saat itu kita masih berumur satu tahun, aku terkena penyakit oleh virus yang membahayakan. Hal itu membuatku meninggalkan dunia ini. Untuk mencegah penyebaran virusnya, tubuhku harus dibakar. Dan abunya dihanyutkan di sungai tepi kota. Karena itulah aku membuat surat ini untukmu kakak. Kuharap sekali kau menerima suratku walau hanya seperti ini cara yang kubisa.
Kak, kau tahu mengapa aku mengajakmu bermain? Karena aku hanya ingin melihatmu tertawa kak. Dan kau tahu mengapa aku mengajakmu ke lapangan Hoflen?  Karena aku ingin kau lebih bersemangat menghabiskan hari-harimu selanjutnya. Kak, aku tidak suka melihatmu menjadi tak peduli, memandang rendah orang lain seperti itu. Karena itu, percaya kata-kataku oke? Percaya kak kalau suatu saat nanti kau akan mendapat balasan dari kebaikanmu.
Kak, hidup itu bukan karena harta. Hidup itu bukan melulu hanya uang. Aku benci melihat kakakku yang kusayangi menjadi miskin dan cuma memikirkan uang. Kak, hidup itu harus berdampingan dengan orang lain. Kita tak bisa hidup sendirian. Carilah teman sebanyak-banyaknya di luar sana. Jangan putus asa karena ayah, ibu, dan aku telah tiada. Berjuanglah kak. Berbuatlah baik pada orang lain kak. Dengan begitu kakak akan berguna bagi orang lain dan kaya teman.
Kak, walau nama kita sekilas berbeda tapi sebenarnya mirip bukan? Oh ya kak, lucu ya. Aku memanggilmu kakak walau lahir kita hanya selisih 14 menit. Kak, maaf ya aku hanya bisa memberimu ini. Mungkin kau tak dapat melihatku lagi. Karena dunia hidup kita berbeda. Tapi, aku akan selalu di sini mendukungmu, menyemangatimu, dan menyorakimu. Jangan pernah menyerah untuk bangkit kak. Perjalananmu masih panjang kak. Jangan sia-siakan hidupmu. Lakukan yang terbaik dan buat aku tenang di sini, oke? Maaf ya aku memanggilmu Sasa, karena aku tak tahu bagaimana.
Sudah ya kak, salam bahagia dari Ayah, Ibu, dan Aku. Selamat berjuang!”

-Renza Shachcarlotte-
(saudara kembarmu)


Seketika, dada Ransha terasa sesak. Terasa diremas kuat. Bola matanya terasa panas. Dalam hitungan detik air matanya meleleh. Berurai membasahi pipinya. Napasnya tersengal-sengal. Tenggorokannya terasa tercekat. Dan suara isakannya keras sekali. Ia merasa senang bercampur sedih. Tapi juga merasa bersalah. Segera ia menggulung kembali dua lembaran kertas itu dan bangkit. Kini ia telah tahu, apa artinya dan tujuannya berada di dunia ini.
***
Bertahun-tahun telah berlalu. Ransha telah menjadi seorang gadis remaja yang cantik. Ia telah sukses menggapai keinginannya. Pada suatu hari, ada seorang lelaki bertubuh tinggi datang kepadanya. Lelaki itu tak lain adalah anak bapak tua yang dulu ia beri uang. Dia menawari pekerjaan yang bergengsi pada Ransha. Ransha menerimanya dengan sangat senang.
Hingga suatu ketika. Ransha menikah dengan lelaki bernama Zarthein. Lelaki yang dulunya sakit lalu berobat dan sembuh berkat Ransha. Kini, Ransha benar-benar telah menemukan kekayaan yang sebenarnya.

***
END



Thanks For Your Visiting My Blog
Catch your Dream!

Sittah Shify

Developer

Jadilah orang yang berguna bagi orang lain. Saling membahagiakan. Saling menasehati. Saling mengingatkan satu sama lain. Jadilah muslim sejati dan selalu melakukan yang terbaik!.

0 komentar:

Posting Komentar